Sedikit mengenai Hipertensi (Darah Tinggi)

Tekanan Darah Tinggi Bukan Penyakit ( Erabaru.or.id ) – Selama ini seringkali penyakit tekanan darah tinggi diobati dengan minum obat penurun darah, akibatnya justru sebaliknya bahkan bisa stroke. Yang harus kita obati seharusnya penyebab mengapa tekanan darah menjadi naik, rata-rata penyebabnya adalah mengentalnya darah atau tidak seimbangnya minyak darah (KOLESTROL tinggi) . Sebaliknya pengobatan tradisional / Suplemen mengobatnya dengan cara memperlancar saluran darah, mengencerkan darah dan merubah darah asam menjadi basa secara alami, sehingga hasilnya lebih baik.Tingkat usia sebagai batasan terjadinya tekanan darah tinggi kian hari semakin tidak berpengaruh. Ilmu kedokteran Barat sekarang mengatakan ada dua kategori tekanan darah tinggi yakni yang terjadi dari penyebab langsung dan yang terjadi sebagai efek sampingan. Sesungguhnya dalam ilmu pengobatan tradisional Tionghoa, pada zaman dahulu tekanan darah tinggi tidak disingung. Tidak menganggap tekanan darah tinggi sebagai sebuah penyakit. Namun, ilmu kedokteran sekarang menganggap tekanan darah tinggi sebagai sebuah penyakit, padahal semestinya adalah suatu gejala penyakit saja, sebuah gejala dari multipenyakit.

Pada dasarnya sejumlah penyakit tertentu, misalnya penyakit ginjal, hipertiroidis (penyakit fungsi kelenjar gondok meningkat) dan lain sebagainya dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Sebagian besar, disebabkan sakit sehingga mengakibatkan naiknya tekanan darah, dengan demikian ini merupakan efek samping. Asalkan penyakitnya sembuh, tekanan darah akan turun dengan sendirinya. Selain itu, ada lagi yang disebut tekanan darah tinggi yang terjadi dari penyebab langsung, yaitu bukan disebabkan dari sejumlah penyakit, melainkan tekanan darah tinggi yang hanya berhubungan dengan pembuluh darah dan jantung saja.

Sebenarnya, cuaca yang dingin juga mungkin dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, juga minum minuman beralkohol atau perasaan tegang, perasaan risau dan lain sebagainya. Semua ini juga mungkin menyebabkan tekanan darah tinggi. Dalam lingkup ilmu pengobatan tradisional Tiongkok, menurut Dokter Hu Naiwen dari Tong Deiang, Shanghai, China sebenarnya tidak dilakukan pembagian sebab penyakit darah tinggi seperti itu.

Kekurangan Oksigen
Ketika pasien mengidap tekanan darah tinggi, dr. Hu Naiwen selalu bertanya, apakah ada komplikasi lain? Jika ada beritahu sekaligus gejala penyakit lainnya. Tidak perlu khusus menangani tekanan darah tinggi, hasilnya malahan lebih baik. Sebab menurut pengamatannya, sebagian besar orang yang bertekanan darah tinggi punya kondisi demikian, dijelaskan gejala penyakitnya, dan anda sendiri juga bisa menganalisis sejenak penyakit apa sebenarnya?

Ada seseorang yang mukanya tampak merah, lehernya mengeras, detak jantung bertambah cepat, dan mengantuk. Jika anda melihat pasien seperti ini, dan anda tinjau dari sisi penyakit, bagaimana anda dapat menganalisisnya? Inilah gejala kekurangan oksigen. Namun, tahukah anda, penyakit tekanan darah tinggi gejalanya juga demikian. Lantas, apa hubungannya? Sesungguhnya satu hal yang sama. Kedua hal ini, mana yang merupakan sebab dan mana akibat?

Karena otak kekurangan oksigen, maka menyebabkan gejala tekanan darahnya tinggi. Saat kekuranga oksigen, perlu oksigen yang cukup untuk disuplai ke dalam otak, dan disaat demikian, untuk mencapai keseimbangan itu, jantung akan berdenyut dengan kekuatan yang lebih besar untuk memompakan darah ke otak. Sebelum memasukkan darah secukupnya, tekanan darah yang terukur sepertinya agak naik. Sebentar kemudian darah bisa mengalir masuk ke dalam otak, dan jika darah yang disuplai ke otak terpenuhi, oksigen dan zat lainnya terpenuhi, dengan sendirinya tekanan darah akan turun. Ini adalah konsep keseimbangan.

Jika otak atau organ lainnya kekurangan oksigen, maka jantung dengan kekuatan yang lebih besar, akan memompa darah ke dalam otak atau memompanya ke hati atau ke bagian organ lainnya. Ketika darah tidak dapat tersalur ke organ-organ, ditilik dari ilmu pengobatan tradisional Tiongkok adalah dikarenakan darah yang membeku, terhambat mengalirnya.

Misalnya, leher adalah sebuah saluran, leher mempunyai sebuah pembuluh nadi, dan darah disalurkan ke otak melalui pembuluh nadi leher. Tetapi, pada saluran yang naik ke pembuluh nadi leher, jika ada bagian yang tersumbat itulah yang dimaksud darah membeku dan tidak dapat mengalir, darah yang masuk terhambat, dengan begitu otak bisa kekurangan oksigen. Dengan demikian, diperlukan kekuatan yang lebih besar untuk memompanya sehingga kelihatan tekanan darah menjadi tinggi.

Cara Salah Menangani
Umumnya orang yang mengidap tekanan darah tinggi selalu mengkonsumsi obat penurun tekanan darah. Namun, ketika darah anda terhambat, lalu anda mengkonsumsi obat penurun tekanan darah, lantas apa darah itu sudah pasti bisa melewatinya? Tentu saja tidak! Itu juga yang menjadi alasan, mengapa mengonsumsi obat penurun tekanan darah, hasilnya justru sebaliknya malah membuat tekanan darah semakin tinggi. Sebab dengan menurunkan tekanan darah, darah di dalam otak malah semakin berkurang. Saat demikian, otak tetap saja tidak memiliki oksigen dan zat yang cukup, karena itu, jantung terpaksa menggunakan kekuatan yang lebih besar untuk menekannya. Meski jantung anda telah berupaya semaksimal mungkin, tetap saja tidak bisa mendukung darah masuk ke otak untuk memperkuat otot jantung mengalirkan darah ke organ yang ditujunya. Akibatnya, otot jantung akan menjadi semakin besar, sehingga terjadilah apa yang disebut pembesaran otot jantung.

Kalau otot jantung menjadi besar, lebih mudah menyebabkan tekanan darah tinggi menajdi bersifat permanen. Jika ada sedikit kerapuhan pada pembuluh darah otak (sisi dalam dinding pembuluh darah menghimpun sejumlah besar kolesterol sehingga dinding berubah menjadi lebih rapuh), maka lebih mudah pecah dan mengakibatkan perdarahan otak. Kaitan tekanan darah tinggi dengan stroke terletak di sini. Begitulah pengertian salah terhadap tekanan darah.

Para dokter menganggap, bila tekanan darah naik harus diturunkan. Begitu pula dengan pasien sekarang selalu menganggap, bila tekanan darah naik, harus diturunkan. Bila berobat ke dokter, dan tidak diberi resep obat penurun tekanan darah, pasti merasa tidak puas. Umumnya orang akan merasa, jika tekanan darah tidak turun, mungkin dapat menyebabkan stroke. Akibatnya, demi menurunkan tekanan darah malah mengakibatkan kekurangan oksigen pada otak, sehingga akhirnya sistem keseimbangan tubuh membuat tekanan darah semakin tinggi dan semakin mudah membuat penderita terkena stroke.

Cara Pengobatan Tradisional / Suplemen
Pengobatan tradisional Tiongkok / Suplemen terhadap penderita tekanan darah tinggi berbeda dengan pengobatan modern. Adalah menggunakan obat untuk memperbaiki peredaran darah dalam organ atau otak, supaya rongga pembuluh darah di sana sedikit membesar, dan menghilangkan darah beku yang tidak mengalir dalam perjalanan aliran darah sehingga dengan sendirinya darah akan lebih mudah lewat Bila darah sudah mengalir, maka secara otomatis tekanan darah akan menjadi normal secara permanen, bukannya menurunkan tekanan darah.

Sebenarnya sangatlah tepat jika ditinjau dari sudut pengobatan tradisional Tiongkok, saat ini seharusnya kita renungkan sejenak, sinshe sekarang juga kerap berdasarkan pandangan kedokteran Barat, yaitu menggunakan obat menurunkan tekanan darah. Kalau begitu, bukankah itu berarti manfaat dari pengobatan tradisional Tiongkok malah tidak berguna?

Percakapan di atas seringkali ditemui dalam praktik sehari-hari. Sebenarnya, apa sih pengertian tekanan darah tinggi yang istilah medisnya hipertensi itu? Tekanan darah tinggi berarti terdapat tekanan yang tinggi dalam pembuluh darah arteri seseorang. Arteri adalah pembuluh darah yang bertugas mengangkut darah dari jantung ke seluruh tubuh. Tekanan darah tinggi bukan berarti tekanan emosi yang berlebihan atau mudah marah, walaupun stres dan tekanan emosi juga dapat meningkatkan tekanan darah.

Normalnya seseorang memiliki tekanan darah (TD) 120/80; TD antara 120/80 dan 139/89 disebut “pre-hipertensi”; TD 140/90 mmHg atau lebih tinggi disebut tekanan darah tinggi. Seseoarang dinyatakan mengalami hipertensi jika dari dua kali pengukuran pada dua waktu yang berbeda didapatkan TD 140/90 mmHg atau lebih tinggi.

Peningkatan TD ini dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko terjadinya kelainan ginjal, penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular), pengerasan pembuluh darah, kerusakan mata, dan strok (kerusakan otak akibat tersumbatnya atau pecahnya pembuluh darah otak). Oleh karena itu, makin awal diketahui dan diterapi makin baik, dalam rangka mencegah terjadinya komplikasi jangka panjang tadi. Hipertensi ini menjadi masalah besar, misalnya saja di Amerika 1 dari 4 orang dewasanya mengalami hipertensi. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, angka kejadian hipertensi makin meningkat setiap tahunnya. Bahkan survei di daerah pedesaan menunjukkan 1 dari 5 sampai 10 penduduk dewasanya mengalami hipertensi, khususnya mereka yang berusia 50 tahun ke atas.

Penyebab Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya, ada 2 macam HT, yaitu HT primer dan HT sekunder. HT sekunder adalah HT yang disebabkan oleh adanya kelainan organ tubuh lainnya, misalnya gagal ginjal. Sedangkan HT primer disebabkan oleh berbagai macam faktor (multifaktorial), yang di antaranya berhubungan dengan penuaan, kegemukan (obesitas), faktor keturunan, kebiasaan merokok, pola makan yang banyak mengkonsumsi garam, serta kurang aktivitas fisik. Sebagian besar (95%) kasus HT termasuk ke dalam kelompok ini.

Apa Tanda dan Gejala Tekanan Darah Tinggi?
Bila tidak terdapat komplikasi (uncomplicated hypertension), pada umumnya pasien tidak menunjukkan keluhan atau gejala. Akibatnya, banyak yang tidak terdeteksi sejak awal karena mereka tidak memeriksakan TD secara rutin. Oleh karena itu, hipertensi kerap disebut "the silent killer" karena penyakit ini dapat memburuk tanpa keluhan sampai akhirnya terjadi komplikasi yang fatal, misalnya serangan jantung atau strok.

Walaupun demikian, ada sebagian pasien hipertensi tanpa komplikasi yang mengalami sakit kepala (tension headache), pusing, sesak napas, dan pandangan kabur. Adanya keluhan inilah yang akhirnya membawa pasien ke dokter, sampai akhirnya terdeteksi mengalami hipertensi. Sayangnya, tidak sedikit pasien yang datang ke dokter setelah mengalami komplikasi berat, yaitu serangan jantung atau strok. Oleh karena itu, perlu dilakukan promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hipertensi dan komplikasinya, sehingga terdorong untuk memeriksakan tekanan darah sebelum timbul komplikasi.

Modifikasi Gaya Hidup yang Bermanfaat dalam Terapi Hipertensi
Beberapa modifikasi gaya hidup, yaitu mengubah pola makan, aktivitas fisik, dan kebiasaan tertentu, sudah terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan meningkatkan respons terapi obat hipertensi yang dijalani.

Kebiasaan minum alkohol
Penelitian menunjukkan bahwa minum lebih dari 2 gelas alkohol sehari dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi hampir dua kali lipat. Hubungan antara kebiasaan minum alkohol dan hipertensi makin kuat pada mereka yang minum alkohol secara berlebihan (lebih dari 5 gelas sehari).

Merokok
Kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko komplikasi kerusakan pembuluh darah (penyakit kardiovaskular dan strok) pada pasien hipertensi. Merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah 5-10 mmHg.

Kopi
Penelitian menunjukkan bahwa minum kopi lebih dari 5 cangkir sehari dapat meningkatkan tekanan darah pada pasien hipertensi berusia lanjut. Selain itu, orang yang memiliki kebiasaan minum kopi dan merokok, dapat mengalami peningkatan tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya minum kopi. Oleh karena itu, pasien hipertensi sangat dianjurkan untuk membatasi konsumsi kafein dan nikotin.